Tampilkan postingan dengan label rants. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rants. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 November 2012

Being Indifferent As You Do

Being indifferent means being dispassionate about things happen around you. So, when people smile at you, you can lift up your brows or merely keep silent. Or in other level, be a bit cold. Either way, it's what I am talking about. People are personalities. There are 7 billion of us live a different lives and multiple personalities. If only we can keep that in mind, we won't easily judge someone without knowing their true personalities or stories.

Well, once my colleague... he was my friend, but after he told what I'm going to tell you about, I level down his companionship level from a 'friend' to only just 'acquaintance'. He told me, quite honest actually, that I've been so indifferent to other people. SO indifferent 'till some guys (I'm a girl, you see) stay away from me. They see me as a girl with distant and stone walls, means I am not friendly. That surprised me. You never know how the way people see you until someone tells you the truth. Then this acquaintance of mine also told that there's a girl who hates me without reason. Whoa.

As long as I remember, I didn't do anything harmful or rude to them. Maybe, I don't smile too often (or should I? Cause it's very discomfortable!). But, you know... I have some theories:

1. I live in country that is well-known for its nice people, hospitality and heart-warming smiles. I told you the truth, people here don't smile here genuinely because it's a social protocol. You meet people, you gotta smile, because if you don't... they will look at you like you walk on fire because you're SNOBBY or INDIFFERENT. That is Indonesia. 

2. The idea of a women who wear hijab should represent a nice personality or at least... feminine. Guys who see women who aren't like that would probably judge them as INDIFFERENT or DISLIKE men in general (which is abnormal, of course). You know, all stuffs like... as a muslimah, we should keep our sight, keep away from touching men (non-muhrim), not being flirty, etc. Maybe people who judge me as an indifferent person think this way. I am a conservative muslimah. Bullcrap.

3. Possibly, I am as they see... an indifferent person. Well, I don't ignore the fact though. Also, I don't despise the idea of me being cold, closed, indifferent, mysterious, anything at all. It's their opinion. What I hate is... how could they possibly judge me as they like while they even barely talk to me, only know my first name, never smiled at me, just looking me afar waiting for me to say fucking 'hello' first like normally Indonesian do?? It was upsetting me very much as they talked behind me. 
I love myself, although there are times when I hate myself. Like any other person. 
I won't change. Because i believe, whenever we should care of others, we do it from our heart, not because of goddamn social protocol. Same thing with smiling or listening to others. Because if you do that other way, you are just a fucking PHONEY and that's the last thing I wanna be. 

My last word, those who hate just gonna hate. If they truly want to be friends, well.. they will find me a passionate, caring, loving, loyal, most trusted person they ever encountered in their life. I promise myself that.
But again, not for phoneys and stupids. 

Jumat, 14 September 2012

A Blue Letter

Kepada: orang yang akan kutinggalkan
Subject: penjelasan yang jujur

Yang tersayang dan akan kulupakan,

Sebagaimana Beethoven menulisi kawan-kawan dan kekasihnya lewat surat-surat rahasia yang tidak pernah ia kirimkan, aku menuliskan perasaanku diatas postingan ini, walaupun dengan gaya pengecut; tapi merupakan perasaanku yang sebenarnya. Semata-mata supaya aku bisa memperoleh kembali ketenangan pikiran yang musim panas lalu hilang dariku karena terlalu banyak memikirkanmu.

Satu episode dalam hidupku dan hidupmu usai sudah. Sepotong era yang seperti era lainnya, dimulai lalu berakhir. Kehidupan begitu kompleks dan penuh misteri. Dalam hidupku, aku berjalan dengan langkah lesu kearah manapun, mencari harapan yang hilang dariku sejak lama, mencari teman dan cinta sejati, kebenaran, ilmu pengetahuan, aku membuka pengalaman baru dan bertemu banyak orang. Dalam hidupku aku mengalami berbagai perasaan. Bahagia, sedih, sakit hati, semangat, kesepian, kecewa, marah.
Dalam hidupku itu aku tidak pernah mengenalmu. Aku tidak tahu kau ada.

Lalu musim yang amat kering itu datang dan kita akhirnya mengenal. Kuketahui ada perasaan lain yang dirasakan semua umat manusia. Cinta. Maafkan aku yang terlalu emosional, aku hanya ingin memastikan perasaanku yang sebenarnya tersampaikan dengan baik. Ya, aku merasakan cinta dan jenis kebahagiaan yang belum pernah kurasakan seumur hidupku.

Lalu yang ingin kukatakan lewat postingan ini adalah; aku berharap bisa bertemu denganmu sekali lagi. Sekali dan yang terakhir. Aku ingin menyelesaikan semua yang terjadi---apapun kau sebut namanya itu---dengan satu percakapan yang jujur. Supaya semua yang kita alami itu punya nilai dan berarti. Mungkin bagimu tidak. Bagimu aku bukan orang yang kau cintai. Tidak masalah, itu semua sudah tidak menyakitkan lagi, aku sudah menerimanya. Lagipula, aku mencintaimu bukan untuk menjadi milikmu juga.

Aku percaya segala yang terjadi haruslah punya tujuan, termasuk pertemuan kita. Kita tidak bisa memilih siapa yang akan kita cintai esok hari. Tapi kita bisa memilih untuk tidak membenci seseorang. Aku tidak memilih untuk membencimu, aku harap kau mengerti maksudku. Aku tidak ingin menyesali perasaan cinta yang sungguh-sungguh kurasakan. Aku menerima semuanya.

Hari-hari yang menyesakkan karena rindu dan patah hati sudah lewat. Aku sekarang  memiliki beberapa pemikiran baru tentang cinta; yang lebih baik dan dewasa. Aku belajar banyak dari mencintaimu.

Karenanya, aku hanya ingin melihatmu sekali lagi. Jika harus berakhir, aku akan berusaha mengikhlaskan perpisahan---kurasa itulah jalan yang terbaik buatmu dan buatku.
Hanya saja, bahkan dalam perpisahan sekalipun haruslah dilakukan dengan benar. Betapa inginnnya aku bertemu, kalau kau ingin mengetahui kebenarannya... aku sangat ingin bertemu untuk berpisah.

Aku harap kau mengerti perasaanku ini karena walaupun tidak langsung, inilah yang kurasakan sebenarnya. Tidak akan kukatakan pada siapapun, hanya kusimpan disini.

Melupakan memang mustahil, tapi hidup harus terus berlanjut.





Temanmu yang menunggu.

Kamis, 30 Agustus 2012

But It's Empty

Aku semakin benci diriku sendiri.

Aku yang diam dan tidak bisa berbuat apa-apa, terlalu tolol untuk menyadari...
ini semua cuma mimpi-mimpi yang tidak logis.

Waktu semakin membuatnya jelas, ini amat sangat keterlaluan. Egois. Berlebihan. Kekanakan.

Temanku berkata untuk berhenti menyalahkan diri. Bahwa perasaan yang kumiliki manusiawi. Tapi semakin kupikirkan aku malah semakin membenci diriku sendiri. Aku seperti orang lain, orang asing yang tidak kukenal, jenis orang yang paling kubenci.

...orang yang membiarkan perasaan menguasai dirinya sampai hilang akal sehat.

Apapun yang kulakukan... sudah tidak begitu berarti lagi rasanya. Sejujurnya, what's the point? There is no point if without him. Bukan. Salah... hatiku mengatakan tidak ada padahal sebenarnya ada.

Hidupku masih berarti. Masih ada segelintir yang menyayangiku.

Tapi kenapa semua itu terasa hampa?

Kalau tidak ada dia, semuanya terasa hampa. 

Aku tidak sadar selama ini aku begitu kesepian, melebihi bayanganku. Sekarang ketika aku mengenal sesuatu yang baru, seperti melihat tempat asing yang indah... aku harus kembali ke liang yang kosong itu.

Aku harus sendirian lagi. Aku harus kembali dan menarik diriku lagi.

Dan sayangnya itulah keputusan yang paling tepat, dan mungkin yang paling logis.

Kenapa hal-hal yang benar sangat menyakitkan...? Kenapa aku harus kesepian lagi? Kenapa aku harus...

Bagaimana bisa aku berharap ada yang menerimaku, sementara aku saja benci sekali diriku sendiri?

Rabu, 28 Maret 2012

Kenapa Ane Benci Lady Gaga

Semenjak ketenarannya yang tidak terhindari sewaktu and SMA, ane tidak pernah terbawa dengan popularitas Lady Gaga. Ane cuma pernah mendengar beberapa lagunya dan melihat 3 klipnya karena penasaran di Youtube dengan mengira ia akan memukau sebagaimana popularitasnya. Ane kecewa... dengan berbagai alasan.

Tidak perlu kukatakan betapa menyimpangnya gaya dan pakaian dia dalam agama yang ane anut. Ane sama sekali cuma bisa mengangkat alis dan bergumam: "wajar, sih" sewaktu MUI memfatwakan haram untuk muslim menontonnya. Tapi alasan hukum ijma itu bukan satu-satunya alasan ketidaksukaan ane pada Gaga.

Ane adalah pecinta musik dan kebanyakan musik barat... yang kebanyakan juga kurang populer di negara ini. Apa nt tahu The Decemberists? Real Estate? Atau Bon Iver? Mungkin tahu. Mungkin tidak. Wajar. Bukannya ane angkuh, karena tidak ada benar-salah dalam selera. Tapi gaya merekalah yang aku suka. Mereka sederhana tapi suka mencoba hal baru. Musik mereka indah dan passionate dan terutama tidak melulu bicara seks, kegalauan, atau kemarahan. Dalam pikiran ane, mereka underrated.

Sementara Lady Gaga? Memang tiap penyanyi atau band punya kekhasan yang membedakan dari yang lain, seperti antara The Kooks dan The Beatles. Tapi tentu saja bukan berarti dengan menampakkan organ paling rahasia bagi wanita lalu berkostum dan wig mengerikan (yang maksudnya saja tidak jelas!) berarti kau luar biasa. Bagiku itu justru menyedihkan. Usaha putus asa untuk terkenal (walaupun berhasil) dan dicintai dengan musik biasa saja, mengapa ia merasa bisa pantas disukai? Karena ia berbeda dengan wig dan make up dan kostum serba aneh? Didunia penuh persaingan ini orang lupa hal terpenting bagi seorang penyanyi adalah musik itu sendiri.

Kenapa memuja Lady Gaga kalau pada akhirnya ia merendahkan musik itu sendiri? Aku tidak paham dengan semua piala yang ia dapat atau jumlah pengikut Twitternya. Tapi soal musik dan kemanusiaan didalamnya, ia benar-benar menyedihkan. Orang-orang lupa mengapa kita menyanyi. Terlalu sibuk terpaku dengan penampilan dan imej. Di dunia yang komersil dan mengkomersilkan keindahan, hal itu sebenarnya membuatku sedih sekali. Lagu dan seni apapun termasuk film, sastra, lukisan, dan sebagainya harus tunduk dengan sistem. Pada akhirnya....

Untuk kalian yang menyukainya, terserah selera kalian. Bagi muslim, tolong dipertimbangkan dengan akal sehat apa kata Rasulullah kalau dia tahu ada perempuan seperti Lady Gaga. Bagi mereka yang sudah membeli tiket konser segala... Selamat anda sudah membuang uang yang cukup besar untuk menginjak injak seni.

Yap, wig dan kacamata kebesaran bukan seni tapi kostum Halloween.

Sabtu, 10 Maret 2012

Ray of Sunshine

Akhirnya kuliah mulai lagi. Setiap hari terasa menyiksa. Akademik maupun sosial. Nobody i can really talk to, not even my friends. Terjebak lagi dengan kehidupan yang ane benci.
Memang lebih mudah mengeluh daripada bersyukur. But who gives a damn care if you are depresssed?!

Semester kali ini ada 2 pelajaran yang mungkin akan mencerahkan pikiran sedikit; Tayyarat Fikriyyah dan Ilmu Tauhid. Memang cuma itu oasis yang membuat ane bisa berlindung dari kejamnya aturan dan hukum yang aku tidak pahami. Bukannya tidak aku setujui juga, kan.

Lalu, kabar menyedihkan lainnya adalah... mungkin ane tidak akan bertemu Rachel dalam waktu yang lama, mengingat kemungkinan bertemunya mungkin cuma 0,006%, who knows? Miracle do happens.
Masalahnya kalau mengingat bagaimana dia adalah ray of sunshine in my life, dengan segala cerita yang ia bagi dan bagaimana ia bisa memahami maksudku--sekarang membuatku semakin merasa kesepian karena tidak bisa bertemu dengannya lagi 2 kali seminggu.

Bukan karena dia seorang native, tapi siapapun yang memahami ane saat ini, he/she is The Ray of Sunshine buat ane. Siapapun. Sekarang dunia ane sekali lagi gelap dan amat sepi.

Jadi, lagi-lagi ane harus mengungsi kekamar dan membaca semua buku atau menonton film-film itu untuk dinikmati sendiri, walaupun itu bagus sekalipun.

Anyway.

I'm speechless to say a word right now.

Kamis, 01 Maret 2012

Fall Out

I can't really explain this, i only can tell i'm disappointed and mad, and when i'm in this state everything is fucking nonsense to me. Life, it's all nonsense. I want to figure it out only what i think it's my logic when it's in fact my anger. She thinks i need her, i don't fucking need her. There are so many people who is better and nicer and won't reject you to go into your home when you're soaking wet in the rain. She's not the only one in this world, i could make one instantly.

Maybe it's time to really let go of her. I should step out from this and give up the rescue. It's too little to late for me to help her. She's out of my league now. Physically, mentally, philosophically. All i can say to her if she was here is: goodbye and have a fucking jolly good life in this nonsense world.

Senin, 13 Februari 2012

What A Shame

Jadi, waktu setempat menunjukkan pukul 12.21 AM dan ane belum bisa tidur.
Ane sudah beli speaker, yang artinya sayonara-punggung-pegel! Liburan biasa saja, nilai-nilai biasa saja (kalau dengar kata IP, jadi emosi), kesehatan baik, kehidupan sosial lumayan, dll, dll..

Ane belajar sesuatu juga, sih hari ini...
Jadi tetangga ane ada yang minta diajari Tafsir Qur'an. Sebutlah namanya Indri. Beliau ini orang yang lebih unggul dari ane dalam hal semangat belajar. Dia tidak kuliah bahkan tidak lulus SMU, tapi semangat-nya mengalahkan semangat belajar mahasiswa. Dengan malu-malu dia yang beranggapan aku berilmu, minta diajarkan al-Qur'an.
Kau tidak boleh menolak orang seperti itu 'kan?
Maksud ane, ane kurang suka ide menjadi ustazah, tapi akhirnya datang juga waktunya. Bukannya ane meremehkan ustazah secara umum! TIDAK sama sekali! Malah malu juga kalau sudah belajar tapi hanya untuk diri sendiri. Seperti pohon yang tidak berbuah dan tidak manfaat. Cuma sampah masyarakat.
Ane tidak ingin karena terlalu takut menyampaikannya. Takut salah. Takut merasa takabur. Takut kalau tidak sesuai diri sendiri dengan apa yang ane ajari. Itu jauh lebih menakutkan! Padahal ane sadar orang-orang kekurangan ustazah-ustazah itu.
Pada akhirnya ane bersedia juga dan berusaha mengajarkan sebisa ane. Dia sungguh antusias dan selalu menanggapi perkataanku dengan positif. Kepadanya ane jujur saja, ilmu ane masih sedikit sekali. Tapi dia bilang tidak apa-apa. Ajarkan saja yang ane tahu.
Hanya saja, ane membuat kesalahan, sepertinya materi yang ane sampaikan terlalu teoritis dan terdengar akademis. Dia yang tidak terbiasa dengan bahasa keilmuan dan orang yang berbicara cepat-cepat harus mengerutkan kening berkali-kali. Akhirnya ia mengaku juga kalau ia sulit mengerti materinya.
Aku merasa malu. Akhirnya kau mengerti, mengapa penceramah bersikap santai, humoris, down-to-earth kepada masyarakat awam. Aku ini mirip seperti mahasiswa desain mengajarkan mewarnai kepada anak TK. Dasar bodoh. Aku malu pada diriku sendiri. Padahal hanya dengan secuil ilmu yang kuberikan asal mudah dipahami jauh lebih baik, ketimbang rumit namun hanya masuk kuping kanan keluar kuping kiri.
Jadi aku menjanjikan untuk mengubah metode pengajaranku dan berjanji untuk mencetak semua slideshow yang kubuat. Aku meminta maaf seperti orang gila tadi. Malu sekali.
Ilmu agama yang kupelajari kadang hanya terasa seperti tumpukan dokumen akademis yang kaku dalam otakku. Bukan untuk dipraktekkan, hanya sekadar tahu. Memalukan.
Aku tidak sanggup melanjutkan ini, aku punya lebih banyak alasan lagi untuk merasa jauh lebih jengkel terhadap diri sendiri.

Senin, 30 Januari 2012

Parents and Other Problems

Aku hampir tidak bisa memahami kesunyian rumah ini. Isi kepalaku seakan dipenuhi teriakan, namun sekitarku sunyi senyap seperti nafas yang tertahan.
Aku tidak mengerti.
Jika keegoisan adalah sifat utama manusia, mengapa aku tidak ingin menerima keegoisan mereka? Begitu kasar dan memaksa, dengan kata-kata menyakitkan, walau berusaha mengabaikan, tapi telah terlanjur terpatri di pikiranku selamanya.
Keluarga buatku adalah kata yang tak dapat kumengerti. Ikatan darah, aku masih bisa paham. Tapi keluarga? Teman-temanku bisa lebih baik. Sahabat baikku jauh lebih keibuan daripada ibuku sendiri. Apakah keluarga tidak lebih dari ikatan darah? Pasti begitu.
Kurasa sejak kita terlahir ke dunia ini, sejak itulah kita berhutang kepada orangtua. Jangan tanya mengapa aku berpikir demikian, walaupun aku mungkin salah.. Orangtua kita membebaskan eksistensi kita ke dunia ini tanpa keputusan kita kecuali keputusan Tuhan. Sejak itulah kita menanggung suatu hubungan yang rumit dengan kedua orang ini. Kedua orang yang dari hasil hasrat mereka kita terlahir. Lalu sejak itu, dengan keputusan mereka kita diberi nama, ditentukan pendidikannya, dan hidupnya. Hidup kita, sama sekali bukan hasil dari demokrasi sialan.
Lalu cinta. Cinta ibarat oasis di tengah gurun. Hidup tak akan layak tanpa itu. Akan tetapi cinta orangtua tak akan kupahami selamanya. Apapun bentuknya. Sudah terlambat untuk mengobrol denganku disore hari yang tenang, sudah terlambat untuk memberikan kado sebagai penghargaan perbuatan baikku, terlambat untuk menjadikanku teman baik, terlambat untuk berbicara dari hati ke hati.
Hati yang tertutup tak akan mampu menyampaikan perasaan yang sebenarnya. Mereka selalu bersikap munafik. Padahal mengapakah bersikap seperti itu pada anaknya sendiri?
Kepastian dari semua permasalahan ini adalah, aku tak mampu mencintai mereka. Mungkin mereka bisa merebut segalanya dariku, oh jangan sampai semuanya! Tapi tidak kebencian dan dendamku. Sebab, kalau kebencian ini hilang... apa lagi yang kumiliki untuk mereka?

Minggu, 25 Desember 2011

An Unexpected Journey

LOTR universe is always surprising and interesting. When i found The Hobbit book for sale (only for 1 Dollar!) i can feel it will be the best thing of the end of the year 2011. But then the trailer for the movie came up not for long after i finished reading, i feel my life is blessed!

Here for you to know, i don't really into sci-fi or fantasy. If i read novels or manga, i prefer what is closer to reality genre than fantasy. Because i can't really stand it and cannot relate to it, okay, I'm not that imaginative person! But that doesn't mean i'm not open to it.

The Lord of The Rings by J.R.R Tolkien is the best fantasy read to me. I can't compare it to any other fantasy book genre. The movies are also awesome, some people are snobby, they dislike movies and irritated about how Peter Jackson adapted it into big screen. But I'm open with his vision, since he is also a hard fan of LOTR saga. He got lots of awards which he deserved. I don't know what it will be like if any other person like Bryan Singer or Davit Yates work as the director. Only PJ can does that and... he is excited to direct the prequel of it. The Hobbit movie.

As you (may) know The Hobbit movie will be released next December. I'm not gonna tell you how suffered I am to wait. Millions of people out there feel the same, they can't wait to return to Middle Earth again. Plus, to meet another beloved and crucial character; Bilbo Baggins. Nah, here i have to tell you how much i love Bilbo! He is my favorite hobbit! Knowing that my favorite actor (Martin Freeman) will take his role is just so enthralling!

I read The Hobbit novel and when i open some website about people's comments about The Hobbit, most of them (as far as I know), say they can't really relate to Bilbo at all, compared to Harry Potter.

It's nonsense actually!

Of course they can say that, they don't wanna feel about the novel deeply! Harry Potter is character out of some opera soap on TV, a long-suffering teenager boy and have to deal with enormous issues, with some friends help him. To be honest, it's a bit cliche! Bilbo is more real. He's maybe like most of us, who is live in comfortable zone and keep his desire for adventure deep inside. He's not a hero, he's just an ordinary funny little hobbit who loves tea and cookies. Until Gandalf come up in front of him and offer an adventure. Bilbo actually doesn't need to step out of his door, helping strangers and killing monsters, no! He can sit on his sofa and waiting for the next day to come, and the world will just be OK. Smaug will always below the Lonely Mountains and Dwarves can go on live without their jewels. But Bilbo has decided to leave his comfortable zone and start off an adventure and change his life forever.
It's not cliche, it's real. I can see most of us can be like Bilbo.
Not including how great J.R.R Tolkien is, for God's sake! The world he created far more amazing and richer. Harry Potter (I like to compare these two since they have a LOT of similarities) world is our modern world with witchcraft sausage on it. Quidditch game? The Daily Prophet newspaper? That magic-moving-chess-pawns? Nah, that's what i call a lazy imagination.
Characters more related to you? Of course they are, they're just like people from that teens TV soap drama!

At this point, you can see how I despise HP saga. I read all of the books (but haven't watch all of the movies because I don't need to) and I have right to say LOTR and The Hobbit are by miles greater than Harry Potter. The movies also same. LOTR movies have a lot of great moments and more charming soundtrack. You have a quality time to watch the movies and try to take the life-lessons out of it.

But Harry Potter compared to Twilight, well you know my answer.

Minggu, 04 Desember 2011

What Hurts The Most

Aku sedang mengurangi kecepatan.

Diantara jam-jam sibuk, pikiranku melambat. Aku memperhatikan setiap detail. Setiap hal yang biasa terkadang menjadi menarik bagiku. Kau akan terkejut jika aku mengutarakan semua itu padamu sekarang. Tapi tentu saja tidak akan kulakukan.
Orang-orang yang ada disekitarku, kusadari betul mereka tidak akan berada disisiku selamanya. Kita memang sungguh lahir sendirian dan berakhir sendirian, ya kan? Aku bertanya-tanya apakah saat kita wafat nanti kita akan bertemu orang-orang lain? Apakah kita akan bertemu dengan orang-orang yang telah lama kita kenal?
Surga dan neraka.. kalau itu ada, apakah akan kita jalani sendirian lagi?
Selama ini, seperti halnya orang-orang lain, aku mengalami banyak perasaan. Tapi mengapa, aku bertanya-tanya lagi, hanya kenangan pahit yang begitu berbekas? Dalam benakku, perasaan benci itu terus tumbuh, menumpuk, tidak hilang, ditumpuk lagi, sampai aku tak bisa membedakan orang mana yang sebenarnya aku benci.
Kurasa aku memang orang yang amat skeptis. Aku bisa bertindak sangat optimis kalau terpaksa. Orangtuaku pernah berkata bahwa aku tidak selalu menceritakan segalanya. Itu sangat tidak sehat, kata mereka, bisa jadi penyakit. Sudah terlambat. Sudah jadi penyakit.
Aku tidak suka semua orang dan tak ada orang menyukaiku.
Tapi itu sudah.. tidak apa-apa sekarang. Aku menerima itu. Aku memang tidak populer atau apa. Tidak memiliki sahabat atau kekasih. Tapi sudah tidak apa-apa sekarang.
Aku menangis karena sedih.
Aku menangis karena tak ada yang memahami.
Aku menangis karena mereka tak menanyakan kenapa.
Sekarang, aku sudah tidak akan menangis lagi
sebab akan tidak ada yang peduli.

..aku melambatkan kecepatan...

Minggu, 20 November 2011

Though Times

Waghh... i've been in bad mood lately, i can get lost in my own house!!
Padahal minggu ini banyak kerjaan, banyak tugas dan tanggung jawab. Karena bad mood semuanya jadi molor... UAS jadi gak maksimal pula. Aku bingung mau gimana! Aku juga bingung sama perasaan sendiri. Setiap hari terasa berat dan hati terasa muram. Hmmm... hm.... hm..

Semua orang (terutama yang diluar kampus) sepertinya mengamatiku. Mereka seperti berkumpul disekililingku dengan tatapan mereka yang menusuk dan berkata hal-hal seram padaku; mana tanggung jawabmu? Kok kamu ternyata gak bisa diandalkan ya? Gak bisa dipercaya. Kamu orangnya payah. Kamu tidak melakukan tugasmu dengan benar..

Hiks, hiks, hiks....

Duh, aku capek!! Capek hidup kayak gini. Biarin aja aku curhat dan bertindak kekanakan. Mereka toh tidak peduli kan padaku. Yang mereka pedulikan ada supaya aku bertindak sesuai keinginan mereka. Tapi aku bukan orang seperti itu. Aku juga ingin ditemani. Kesepian rasanya.

Sepi, sepi.... sepi banget gak punya temen.
Aku jadi ragu apakah ada yang menyayangiku ya? Orangtuaku saja tidak kenal denganku. Setiap hari aku semakin kesepian dan terasing. Cuma komputer ini saja yang bisa memberi apa yang kubutuhkan.

Aku ingin ngobrol dengan Rachel... :'((

Sabtu, 29 Oktober 2011

Memories

I have ever heard that if we recall the past by our memories, means that we’re dreaming and dreaming means illusions. 
Maybe it’s true, because the more I remember him, get into that exaggerated memory of the past; I know it doesn’t very real again. Our minds just like automatically add something here and there then make it up so the real image becomes so delusional…

But why, it’s so devastating… Because if it’s not by recalling the past, how can we keep the memory lives on?
How can we remember those who ever been in our lives?
Shall we let it go and wish a better day?

We’re growing and also the people we know. Growing means changing. Then everything won’t be the same.
I wish it’s not. I think Holden Caulfield from Catcher in the Rye gets my point, why can’t everything stay as it is??
And I think about him, I feel inside my heart I know it’s a childish thing to remember him in the same way. When he has gone long way before I type this, we split on our own paths, we live another lives, haven’t seen each other for time that feels like forever…
One night, I dreamed about him, which was surreal… I cried in my dream, seeing his face which was very funny because he was very good-looking, but when I woke up, tears have already rolled on my face. I can feel my heart hurts so badly and I can’t stop crying while I was walking limply to the bathroom. That was like a millionth time I dream of him.
Keeping my head on a surface, breathing from the reality air feels terrible. Days are waiting ahead, but memory keeps after me.
I can’t say goodbye to you. ‘Till my feeling reach to you.

Rabu, 26 Oktober 2011

Dark Night

Apa yang kau pikirkan saat mendengar kata krisis iman?
Aku sejujurnya sedang mengalami ini. Rasanya sungguh tidak enak. Kau tidak tahu harus berbagi pada siapa, teman-temanmu akan menganggapmu sedang galau sementara saja, orangtua akan kalang-kabut merasa ada yang salah dengan hidup anaknya, guru-guru akan khawatir (seadanya) dan berpikir ada yang salah dengan sistem pendidikan agama. Singkatnya, tak ada tempat untuk dituju. Sehingga terpaksa, sekali lagi seperti biasa, menjalaninya sendirian. Seperti belajar otodidak.

Hari ini aku berulang tahun yang ke-20. Dua puluh, sumpah demi Tuhan. Lima tahun silam aku merasa dunia terbuka luas dan tersenyum ramah. Kini, hanya melihat peta dunia aku merasa sedih. Mungkin dunia hanya membuka sedikit bagiannya untukku. Mungkin aku tidak cukup beruntung.

Aku sebenarnya mampu merasakan ada sesuatu yang amat salah dalam pola pikirku. Aku semakin benci dinasehati. Dalam rencana keluargaku yang sempurna dan penuh perhitungan, ada satu kelemahan; diriku. Namun mereka tidak menyadari ada cacat tersembunyi ini, yang tersembunyi dalam sosok anak sulung penurut, pendiam, dan ambisius. Lubang kecil yang akan menenggelamkan seluruh perahu.

Meskipun aku tidak tahu kapan akan terjadi, namun aku merasa suatu saat akan datang sesuatu yang akan mengubah semua ini. Entah dimulai dari krisis iman tadi atau masalah finansial atau mental, dst. Suatu saat orangtuaku akan menjerit kecewa karena diriku ini. Oh, Tuhan, aku tahu itu persis...

Mungkin walaupun aku berceritapun tak akan ada yang sungguh peduli, mungkin memang itu cara kerja dunia. Sebagian orang tidak beruntung menemukan cinta sejati dalam hidupnya, tidak sempat menemukan kebahagiaan sejati sampai ia meninggal dunia. Ini membingungkan sekaligus tragis.

Sekarang, setiap hari aku tidak merasa bahagia. Aku tahu, ada banyak yang harus dikerjakan. Aku telah diberikan kesempurnaan yang selalu lalai kusyukuri. Tapi ada sesuatu yang sungguh lenyap jauh dalam hatiku--yang tak bisa kukatakan--namun akan teringat selamanya.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Mist

Ada banyak hal menarik yang menunggu setiap minggu. Film, buku, musik, acara TV, bagiku kebanyakannya adalah kegiatan yang hanya bisa dinikmati sendiri. Seperti yang selalu kupikirkan tentang diriku, I'm more philosophical than practical. Ada cerita-cerita pendek dari abad ke 17 menunggu di kelas Bahasa Inggris untuk dibaca bersama. Dan lain-lain sebagainya yang membuat hidup singkat ini jadi menyenangkan.

Hidup yang singkat. Yah, setidaknya bagi sebagian orang. Sebenarnya tidak, apabila kau memiliki kepercayaan sepertiku. Aku percaya ada kehidupan setelah kematian. <---nah, ini adalah sebagian hal yang meresahkan dalam kurun waktu beberapa minggu ini--namun aku mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya. Mungkin lebih kepada desakan moral akan keadilan kehidupan. Hidup yang tidak adil akan dibalas seadil-adilnya setelah kita semua mati. What a fun thought!

Lalu ada lagi yang menghinggapi pikiranku, masa depan. Aku tidak ingin terkesan cheesy, tapi sebagai mahasiswi yang semakin mendekati tahun akhir kuliahnya, mau tidak mau aku harus mulai merancang rencana masa depan. Orangtua mana di dunia ini yang tidak ingin anaknya bisa hidup layak dan berhasil? Harapan dan ekspektasi itu terkadang memotivasi semangat belajar tapi disatu sisi juga mengkhawatirkan. Pertanyaan seperti; apa itu sukses? apa itu layak? apa itu uang? pasangan hidup? keluarga? Segudang pertanyaan yang tak ada seorang pun mau menjawabnya untukku terus bertambah. Dari hari kehari, menit kemenit, tapi aku merasa semakin takut. Aku mulai merasa sedih dan bertanya-tanya; benarkah mereka yang mengharapkan keberhasilan diriku sungguh mengharapkan kebahagiaan bagiku? Atau ini hanyalah semacam pelampiasan bagi mereka untuk mengisi mimpi-mimpi masa muda mereka yang tak tercapai? Atau lebih sederhana, gengsi sosial?

Aku tidak tahu, dan kurasa tidak akan pernah tahu. Aku tidak pernah merasakan cinta, cinta yang hangat dan nyata maksudku. Bukan yang dingin dan penuh kepentingan. Mungkin orangtuaku memang mencintaiku tapi mungkin mereka juga sedang berusaha memahami keinginan mereka sendiri melalui diriku. Kau tidak akan dapat memahami kehidupan ini dengan sebenar-benarnya, oh, kuharap jangan. Sebab menurutku, kalau kehidupan ini menyingkap rahasianya, kita akan kecewa.

Mungkin, kehidupan adalah apa yang kita pikirkan.

Mungkin, kita semua sedang dalam mimpi berkepanjangan, dan suatu saat akan terbangun.

Tapi aku mensyukuri kehidupanku. Ada hal-hal yang ingin kuubah didalamnya, tapi kebanyakan tidak. Ada lebih banyak hal diluar sana menunggu dan aku tidak sabar menjalani labirin masa depan. Kuncinya adalah, jangan terlalu banyak mempertanyakan dan tetaplah melangkah.

Dan seandainya ada seorang kawan setia dalam perjalanan ini, mungkin saat itu semua pertanyaan terjawab...

Jumat, 26 Agustus 2011

Mad, Mad Lebaran

I hate Lebaran!

I hate mudik!

I hate crowd people only say 'sorry' in that day!

More importantly, they act sweet and charm and cheerful only in that day, FAKE!

Aidl Fithr means go back to eat something, LITERALLY! And not this perilous mudik with the dullest family ever in a pathetic car and horribly dangerous roads. NO.

Screw you mother and father! Eat my shits! Why don't you two just die or something. I hate you people make me sick every year, make me have to apologize for mistakes you all did to me! I hate, i loathe, i despise YOU.

Go die and fuck yourself, folks!!

Senin, 18 Juli 2011

Resistance

Akhir-akhir ini aku amat sangat malas melanjutkan menulis blog. I mean it seriously. I have to push myself hard so i can land my fucking fingers on this fucking keyboard.
And I'm doing it.

KEJADIAN BARU-BARU INI:

1. Vira pergi ke pesantren. Adikku. Aku menyadari aku menganggapnya seperti Holden Caulfield
    memandang adiknya, Phoebe.
2. Aku mendapatkan handphone baru: Samsung Galaxy Mini, dan aku sudah handal mengoperasikannya
    kecuali dalam hal mengakali pulsa. Pulsa sialan.
3. Adikku yang lain; Lita... melakukan hal menyebalkan dengan pacarnya lewat sms. Perhaps that's what we
    call; virtual sex.. or else. I dunno.
4. Aku sangat sedih harus menonton acara TV kesukaanku (Top Gear, That '70s Show, The Big Bang
    Theory, James May Man's Lab, etc.) sendirian!
5. Mrs. Rachel sungguh wanita yang menyenangkan! Suatu keanehan bertemu dengan seseorang yang
    menyukai Mr. Darcy (Colin Firth) dan despises K-Pop just like me. Whoa.
6. Aku tidak akan pernah terbiasa tidur sendiri. Terakhir kali aku sendirian, aku baru bisa tidur jam 3.

YANG KUSUKAI SAAT INI:

1. James May
2. Jim Parsons
3. Benedict Cumberbatch

they're fucking geek.

Senin, 04 Juli 2011

Tidak ada yang terjadi.

Rabu, 29 Juni 2011

Think About This When You're Down!

I'm watching Stuart: A Life Backwards now and can't keep to type down this thought. When i see something that is okay or so-so, not ambitious, I always think maybe it's good to be so-so. I had believed in the mindset of becoming so-so is awful and dull but apparently I change my mind. 

This is the lesson that I told you the most difficult. To be grateful. It doesn't mean you stop fighting, stop innovating, no. This is the lesson for anyone who wants to think himself as somebody else. In this case, myself.

We often let down when what see a great thing doesn't considered that great to somebody else. We often disappointed with the real situation because it doesn't suit with our ideas of this life. Or maybe we don't want to see that: I'm fatter than her, I'm not as clever as her in Math, I'm not taller than my junior, I have chubby cheeks, I can't speak loudly like him, and all. These and the other unnecessary comparison happen whole our lives. It's normal, it become dangerous when you value yourself with this point of view..

What's the point of seeing life by the sake of other's will? How about our wants? It doesn't matter if our shoes are not more astonishing than her, because we LOVE them. It doesn't matter also if you're not as slim as her, you can change it without being slaved by the poor judgement of body and self-worthy.

It's like when i think this movie is cool, it's well starred, well directed, and some of so-called pro critics say it's lousy... They're annoying and ruin your amusement. But let them be, simply say; SCREW YOU ALL. If you don't enjoy this you miss a lot. My self-judgement is above yours!

So, don't often think; this life is better when you take care of others. Sometimes it's fucking wrong (yes, that was F word I said)! Sometimes, no.. MANY times it's better to close your eyes, don't care at most of things and your life will be so much enjoyable.

As Noel says: "Take what you need, be on your way and stop crying your heart out"

Minggu, 26 Juni 2011

Tough Headed.. Yes

Kepalaku.....
Yah, setidaknya tidak sia-sia. Lima setengah halaman udah kehafal (meskipun agak mencang-mencong). Tapi kepalaku jadi agak pening dan keras <--gak ngerti kenapa. Jadi kuputuskan untuk rehat dulu. Mungkin akan mulai menghafal dari awal surat An-Nisaa saja. Pertengahan juz 4 mulai sulit sekali dihafal.

Aku tidak pernah yakin sebenarnya untuk menghafal Al-Qur'an. I never intend to memorize that Holy Book.

Karena ini compulsory, jadi terpaksa kuhafal. Tapi kalau aku dapat pahala karena ini, aku tidak keberatan. Hehe. Pasti Allah SWT marah dengan sikapku yang setengah-setengah ini. Astaghfirullahal Azhim!

Oh, ya... aku menulis ini dengan rasa bahagia karena seed Torrent menunjukkan angka 2. Setidaknya kau harus punya satu seed untuk melanjutkan proses unduhan. Alhamdulillah wa syukru lillah.

PS : Aku tidak sabar untuk menunggu liburan sialan itu. Harus segera merancang kegiatan liburan panjang.
       Hm, rancangan... rancangan....

Stressed Out

Download torrent gak keluar juga seed-nya. Bajingan!